4 Cara Konseling yang Sesuai Untuk Penyandang Disabilitas Baru

Penyandang disabilitas yang mengalami depresi atau penurunan semangat hidup bukanlah merupakan hal asing. Banyak kejadian menunjukkan bahwa penyandang disabilitas rentan dengan depresi karena tidak bisa menerima keterbatasan yang dimilikinya. Apalagi bagi penyandang disabilitas yang sebelumnya memiliki anggota tubuh secara utuh. Proses penerimaan diri tidaklah sebentar. Apalagi jika tidak didukung oleh keluarga dan lingkungan sosial. Mereka bisa menganggap bahwa kehidupannya telah berakhir karena tidak mampu melakukan hal sebanyak orang-orang normal.

Penyandang disabilitas dengan jenis itu harus mendapatkan konseling agar semangat hidupnya tetap terjaga. Konseling dapat diberikan oleh sesama penyandang disabilitas yang mampu bangkit dari keterpurukannya. Namun alangkah lebih baik tetap melibatkan orang terdekat dan psikolog. Meski sesama kaum difabel mengetahui bagaimana perasaan dan apa saja yang dibutuhkan difabel lainnya, permasalahan yang dihadapi belum tentu serupa. Keterlibatan psikolog adalah untuk mengukur seberapa jauh depresi yang diderita penyandang disabilitas. Sementara kehadiran orang terdekat berfungsi untuk memberikan rasa aman dan nyaman, sekaligus sebuah bukti bahwa mereka mendapat dukungan dari orang-orang terdekat.

Ada 4 langkah untuk melakukan konseling terhadap penyandang disabilitas :

– Dukungan peer to peer
Langkah pertama ini merupakan pendekatan yang dilakukan secara langsung oleh konselor kepada penyandang disabilitas baru. Konselor harus melakukan pendekatan ini secara aktif untuk mengenal lebih jauh permasalahan seperti apa yang dialami penyandang disabilitas baru. Memilih tempat yang nyaman termasuk pertimbangan untuk komunikasi yang nyaman.

– Penilaian selama interaksi berlangsung
Ketika proses peer tp peer berlangsung, konselor harus melakukan penilaian terhadap penyandang disabilitas baru. Tujuannya adalah mengumpulkan informasi mengenai hal-hal yang dibutuhkan oleh penyandang disabilitas baru tersebut

– Menyediakan kebutuhan alat bantu
Setelah mengetahui apa saja kebutuhan kaum difabel, konselor harus memberi tahu cara menggunakan alat bantu yang telah diberikan. Konselor harus menceritakan pengalaman selama menggunakan alat tersebut agar penyandang disabilitas itu paham bagaimana dan akan seperti apa penggunaannya nanti.

– Proses rehabilitasi
Setelah tiga langkah di atas terpenuhi, saatnya proses rehabilitasi dimulai bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan kembali semangat hidupnya. Khususnya penyesuaian kegiatan yang pernah dilakukan penyandang disabilitas baru setelah mengalami kecelakaan. Sebab, ketika menjadi penyandang disabilitas baru, artinya menyesuaikan diri sejak awal pada hampir seluruh kegiatan yang pernah dijalani.